Minggu, 01 Juli 2018

"AKU"


Dulu “Aku” ada dan tak ada.  “Aku” dulu adalah makhluk yang melayang di angkasa,  alam ruhaniah. “Aku” adalah wujud dari bagian jagat raya yang diciptakan oleh Allah Rabbul 'Izzah, Tuhan Semesta. “Aku” bukan Tuhan, tapi “Aku” adalah kemahakuasaan dan kesempurnaan-Nya Yang Abadi. Bukan “Aku” yang maha sempurna, tapi Dia yang Maha Sempurna. “Aku” juga bagian dari mereka yang berawal dan berakhir, yang berawal dari tiada menjadi ada dan kembali tiada, hidup di alam ada, dan kembali ke alam ada yang kelak disaksikannya setelah “Aku” menemui kematian.
Tuhan menjelmakan “Aku” dengan sebait perjanjian, “… alastu birabbikum…” (“… bukankah Aku Tuhanmu…”). Lalu “Aku” menjawab, “… qōlū balā syahidnā…”, (tentu, Engkau Tuhan kami, kami bersaksi …”) (QS. Al-‘Araf [7]:172).  “Aku” mengikat perjanjian ruhani dengan Tuhan, sebuah perjanjian yang mutlak dikerjakan dan tak ada kepura-puraan dalam perjanjian itu dengan segala konsekuensinya.
Kemudian “Aku” dijelmakan dalam alam yang penuh dusta,  relatif, penuh interpretasi dan interpensi, sekaligus alam kebenaran dan kesaksian. Di sinilah “Aku” lalai, dan lalai pada ikatan perjanjian ruhani itu. Ikatan penjanjian antara “Aku” dengan Tuhan sering pudar dalam perjalanan hidupku. Tuhan adalah Tuhan yang mengetahui segala sisi “Aku”. “Aku” tenggelam dalam kegelapan oleh segala materi kehidupan yang fana, padahal “Aku” akan menempuh perjalanan panjang. Dusta adalah karakter manusia yang berkembang dalam budaya kehidupan fana. Kebenaran adalah relatif ketika ditafsiri oleh bangsa manusia yang lahir dari Tuhan Maha Absolut. Interpretasi terhadap kebenaran absolut karena lahir dari interpensi  dengan aneka bentuknya. Sementara “Aku” tetap adalah “Aku” sebagai bagian dari kekuasaan absolut Tuhan. “Aku” menjadi bagian dari interpretasi itu dalam budaya manusia yang mencari kebenaran absolut. Karena “Aku” bagian dari alam semesta ini yang selalu dicari “definisi”nya oleh sebangsa “Aku”.  Pertanyaan yang muncul dalam alam sebangsa “Aku” adalah; “Siapa “Aku”?”, “dari mana “Aku”?”, “kemana “Aku”?”, “untuk apa “Aku”?”, dan “bagaimana “Aku”?”. Semuanya bagian dari pembahasan yang penuh interpretasi. Karena “Aku” makhluk yang penuh misteri. Ruh dan jasad, sesuatu yang menyatu tapi memiliki wujud lain dalam diri “Aku”. Kehebatan Tuhan yang menata organ-organ kedua bagian ini, dengan sistem yang sangat menakjubkan adalah bukti kekuasaan-Nya.
Dalam kontek ini, para filosof, seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Gazali, Ibn Rusyd serta tokoh-tokoh lainnya telah membahas soal “Aku” dalam deretan kalam yang cukup panjang, berpolemik dalam memahami hakikat kebenaran.
Untuk mengenal hakikat kebenaran, hanyalah Dia yang tahu. Sedangkan manusia memiliki keterbatasan pengetahuan untuk menjelajah kekuasaan-Nya, sehingga memunculkan penafsiran yang berbeda terhadap kebenaran itu. Namun demikian, Tuhan selalu ingin dikenal oleh manusia, meskipun ilmu pengetahuannya terbatas. Ciptaan-Nya inilah pada hakikatnya gambaran Tuhan  Yang Maha Esa, untuk dikenali oleh manusia, seperti “Aku”. “Aku” tidak akan mengenal Dia tanpa ada telapak tangan-Nya. Keinginan Tuhan untuk dikenal adalah hal yang wajar, yang secara logika akan bertanya,  “Bagaimana “Aku” mengenal sesorang tanpa karyanya?”
Dalam hadits Qudsi, Tuhan pernah menyampaikan sebuah pernyataan ;
“…Kuntu kanzan makhfiyyan, fa’ahbabtu an-‘u’rof, fakholaqtu al-khalqo, fa’aroftuhum bi, fa’arofūni…. ” (..Aku dulu adalah harta yang tersembunyi, kemudian aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk, Aku mengenal mereka, lalu mereka mengenal Aku…)[1]
Karya agung-Nya ini sesungguhnya untuk membangun ketawadhu’an “Aku” dan sekaligus pengakuan atas kekuasaan-Nya. Sehingga “Aku” sadar bahwa dibalik semua ini ada interpensi Tuhan yang memelihara, menjaga dan menyusun serta mengatur kehidupan dengan segala ukurannya yang tepat, dan tak akan pernah berpihak kepada siapapun, karena Dia tidak memiliki kepentingan apapun dari seperti dan sebangsa “Aku”. “Ooooohhhhh, Dia Maha Kaya dan Sempurna…”, sesempurna “Aku” yang diciptakan oleh-Nya. “… Laqod kholaqna al-insana fi ahsani taqwim…” (Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna) (QS. Al-Tin [95]:4)
Mestinya “Aku” mengenal Tuhan lewat diri “Aku” yang berstruktur mengagumkan (ajaib). Ada pernyataan “… Man ‘arofa nafsahu, arofa robbahu…” (… Siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya…)[2]. Inilah sebuah pernyataan yang mestinya memotivasi “Aku” untuk mengenal Tuhan Rabbul 'Izzah. 



[1] Ali ibn Niyif al-Syujud, Mausu’ah al-Khatib wa al-Durus, (Maktabah Syamilah, ttp, tt), h. 1  
[2] Al-Siyagi, Tuhfat al-Musytaq ila Syarhi Abyat Maula Ishaq, (Maktabah Syamilah, Mawqi’ al-Waraq, tt), h. 15. (Menurut al-Albani, hadits ini dhaif, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Nawawi “tidak mempunyai sumber asli”, kecuali hanya  ungkapan orang sufi saja), lihat  Albani,  jil ke-1, h. 143.

Tidak ada komentar: