Senin, 18 Juli 2016

PESAN-PESAN THEOLOGIS, FILSAFAT DAN SAINS DALAM SURAT FATIHAH


Oleh : Hasan Luthfy Attamimy


A.      Pendahuluan
Sejak Islam diproklamirkan di tengah masyarakat Arab[1], membuat sebagian besar mereka seperti terhujam anak panah. Terlebih lagi, pengakuan Muhammad ibn Abdullah  sebagai seorang Rasul, meskipun mereka mengetahui banyak tentang karakternya yang baik dan mulia, seakan-akan menutup kebebasan hidup mereka yang telah didominasi oleh budaya kezaliman. Muhammad dianggap sebagai duri bagi mereka yang mengancam tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun. Baik aspek keyakinan, aspek kemasyarakatan maupun aspek ekonomi[2]. Tradisi upacara ritual dengan media berhala-berhala untuk mendekatkan diri kepada Allah, tradisi membunuh anak-anak perempuan yang dilahirkan oleh ibunya, tradisi monogami dalam pernikahan[3], atau tradisi riba dengan memeras si pemilik hutang  dan lain sebagainya, dikritik oleh al-Qur’an.[4] 
Tradisi jahiliyah tersebut yang telah berlangsung pra kerasulan Muhammad,  nampaknya dianggap legal dalam kehidupan mereka. Hukum yang berlaku pun dalam masyarakat jahiliyah hanya berpihak kepada  kaum peodalis dan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi. Sementara bagi kaum lemah (dhu’afa) tidak memiliki kemerdekaan.  Hal ini tercermin dari teks-teks al-Qur’an yang berbicara tentang  bentuk-bentuk kezaliman. Di antaranya ; sistem utang-piutang ribawi yang berlipat ganda, sistem pembagian harta waris yang tidak adil, dan penindasan terhadap kaum lemah. Namun, bukan berarti mereka tidak mengenal Allah sebagai Pencipta langit dan bumi yang akan memberikan sanksi bagi para pelanggarnya. Mereka sangat faham tentang itu. Hanya saja, Allah  bagi mereka telah disejajarkan dengan tuhan-tuhan sesembahannya.
Sebagaimana Allah berfirman ;

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ  (العنكيوت : 61)
Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar. (QS. Al-‘Ankabut [29]:61)

Islam datang untuk memberikan pencerahan jiwa manusia dari kebodohan. Islam hadir ditangan seorang Rasul; Muhammad ibn Abdullah di tengah-tengah masyarakat yang telah kehilangan makna hidup. Mereka diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW.  tentang ;  Ketuhanan, alam semesta dan cara hidup bermasyarakat, melalui wahyu yang di-nuzul-kan kepadanya. Dan dalam waktu 23 tahun, al-Qur’an telah merubah sistem kehidupan masyarakat Arab Jahiliyah menjadi masyarakat madani (berbudaya).
Semangat para sahabat untuk menghafal wahyu dan mencatatnya dalam berbagai alat tulis yang mereka dapatkan saat itu, menjadikan mereka orang-orang yang berpengetahuan. Terlebih lagi didorong oleh intruksi Nabi yang mewajibkan umat Islam untuk menuntut ilmu tanpa mengenal batas usia (min al-mahdi ila al-lahdi). Demikian pula dengan hadits-hadits Nabi sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an, memberi spirit  yang sangat dalam bagi kehidupan mereka.
Al-Qur’an dan hadits Nabi, bagi para sahabat, merupakan mau’zhah yang sangat bernilai dan tak ada tandingannya. Kehadiran al-Qur’an dan hadits Nabi, merupakan anugerah besar yang dapat mengasah intelektual manusia yang mempelajarinya, dan sekaligus memupuk keimanan yang lurus kepada Allah.  Dari mereka-lah terlahir para tabi’in dan tabi’ tabi’in yang memiliki intelektualitas keilmuan dengan  berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Baik dibidang tafsir, hadits, fiqh, tasawuf, ilmu kalam, filsafat maupun sains dan sebagainya.
Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, tidak saja berbicara tentang hukum yang mengatur kehidupan manusia. Tetapi juga memuat berbagai informasi yang sangat menarik bagi manusia untuk digali[5]. Bahkan al-Qur’an sendiri menantang mereka yang menolak kebenaran kitab suci ini.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (البقرة : 23)
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah  satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.(QS.al-Baqoroh [2]:23)

Informasi yang ditawarkan al-Qur’an telah diuji kebenarannya oleh para cendekiawan Barat maupun Timur, dari masa ke masa dan  dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, termasuk saintis. Pesan-pesan theologis maupun informasi sains yang terkandung di dalam al-Qur’an  memberi kesan yang sangat dalam bagi mereka yang mencari kebenaran. Terlebih lagi ketika al-Qur’an berbicara tentang alam semesta  dan  kehidupan.
Al-Qur'an yang dimulai dengan surat Fatihah sudah menampakkan identitasnya sebagai surat yang mewakili seluruh surat isi kandungan al-Qur'an.[6] Oleh karena itu, surat ini disebut Fatihah (pembuka). Maka pada awal surat ini, terkesan bahwa al-Qur'an mengajak manusia untuk mengenal Allah lebih dekat melalu alam ciptaan-Nya yang spektakuler. Kata “Basmalah” misalnya, menurut Abu Bakar al-Tunisi, seperti dikutip oleh al-Alusi bahwa ijma (konsensus) ulama menyebutkan, ‘semua kitab millah (agama semitik) dimulai dengan ‘basmalah’ sebagai pembuka kitab sucinya’. Demikian pula komentar al-Sarmini, seperti dikutip oleh al-Suyuthi.[7]  Surat Fatihah yang diawali dengan ‘Basmalah’ seakan menawarkan pertanyaan “Siapa Allah Yang Maha Rahman dan Rahim” itu?. Kata ini pula memiliki tempat yang terhormat, karena Nabi Muhammad menganjurkan umatnya agar setiap pekerjaan diawali dengan ‘basmalah’.  Belum lagi ayat-ayat yang terhampar  pada surat-surat di dalam al-Qur’an.   
Sebagai “Ummu al-Qur’an”, surat Fatihah juga seakan menjadi surat yang terhormat. Karena selalu dilafalkan dalam setiap shalat; baik wajib maupun sunnah; baik munfarid maupun berjamaah. Bahkan tidak shah shalat seseorang jika surat ini tidak dibaca.[8] Bahkan, surat ini selalu terbawa dalam setiap tradisi keagamaan bagi umat Islam di Indonesia; baik acara syukuran maupun pada acara kematian. Apa sebenarnya rahasia dalam surat Fatihah ini?, Bagaimana pesan-pesan filosofis dan teologis dalam surat Fatihah?, Bagaimana pula kata “Rabb al-‘Alamin” dalam kontek sain?  

B.       Surat Fatihah
1.         Pengertian
Secara etimologi, “Fatihah” terambil dari akar kata “فتح- يفتح -فتحا- فاتحة   artinya membuka-pembukaan. Sedangkan secara terminologi, Fatihah adalah salah satu surat dalam al-Qur’an yang mempunyai beberapa nama; Ummu al-Kitab (induk kitab), Ummu al-Qur’an (induk al-Qur’an), Sab’u al-Matsani (tujuh ayat yang terulang-ulang) karena dibaca dalam shalat, al-Asas (dasar) karena merupakan dasar al-Qur’an dan awal surat, dan Fatihah (pembukaan) karena surat pertama susunannya dalam al-Qur’an[9].
Fatihah, menurut Penulis, adalah surat yang memiliki khususiyat (keistimewaan khusus) dalam al-Qur’an sehingga dijadikan surat pertama. Hal ini dapat dilihat dari kelengkapan  (syumulah) makna yang mewakili semua pesan al-Qur’an yang terkandung dalam Surat Fatihah yang berbicara tentang tauhid, janji dan pahala, ancaman dan siksa, menjelaskan tentang cara memperoleh kenikmatan dunia dan akhirat serta kisah-kisah dan informasi hidup manusia masa lalu[10].

2.         Basmalah dalam kontek ayat
Ulama memang mempersoalkan Surat Fatihah, apakah dimulai dengan “Basmalah” ataukah “Hamdalah” sebagai ayat pertama?. Ini penting bagi Penulis untuk menjelaskan persoalan ini, karena keduanya memiliki kandungan yang sangat signifikan yang terkait dengan teologi, filsafat dan sains. Menurut sebagian para ulama, seperti dikutip oleh Maraghi, bahwa “Basmalah” adalah salah satu ayat dari surat Fatihah, sebagaimana dikemukakan oleh sebagian para sahabat, seperti Abi Hurairah, Ali, Ibn Abbas dan Ibn Umar. Demikian pula pendapat yang sama, menurut Maragi, dikemukakan oleh sebagian para tabi’in seperti Sa’id ibn Jubair, Atha’, al-Zuhri, Ibn al-Mubarak. Dari kalangan sebagian para ulama fiqh dan para quro’ di antaranya Ibn Katsir. Dari para qori Kufah, seperti ‘Ashim, al-Kasai, al-Syafi’i, dan Ahmad bahwa “Basmalah” merupakan salah satu surat dari Fatihah. Hal ini, menurut mereka berdasarkan pada;  Pertama,  konsensus (ijma) shahabat dan generasi sesudahnya yang menetapkan dalam mushaf al-Qur’an bahwa “Basmalah” menjadi awal surat, kecuali surat al-Bara’ah.  Kedua, berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW;

عَنِ الْمُخْتَارِ بْنِ فُلْفُلٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أُنْزِلَتْ عَلَىَّ آنِفًا سُورَةٌ ». فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ..."

Dari Muchtar ibn Fulful berkata, aku mendengan Anas ibn Malik berkata, “Bersabda Rasulullah SAW, “Tadi telah  diturunkan sebuah surat kepadaku. Lalu beliau membaca; “Bismillahirrahmanirrahim” (HR. Abu Daud)[11]

Ketiga, konsensus para umat muslim bahwa antara dua surat (daffatain) terdapat kalamullah, dan Basmalah berada di antara keduanya yang wajib ditulis. Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Madinah seperti Malik dan lain-lain; Ulama Syam seperti Auza’i, dan para jamaahnya.[12]
Meskipun sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa “Basmalah” bukan termasuk salah satu ayat dari surat Fatihah, tidak mengurangi jumlah ayat di dalamnya. Karena menurut pendapat yang terakhir  ini, Surat Fatihah yang dimulai dari “Hamdalah” sebagai ayat pertama, maka ayat ke enam adalah “Shirath al-ladzina an’amta ‘alaihim” (   صراط الذين انعمت عليهم), sedangkan ayat ke tujuh separuh ayat terakhir, yaitu “Ghairi al-Maghdubi ’alaihim wala al-Dhallin” (  غير المغضوب عليهم ولاالضالين)[13]. Artinya jumlah ayat pada Surat Fatihah semua ulama sependapat. Yang membedakan adalah dari mana Fatihah itu dimulai sebagai ayat pertama.
Terlepas dari perbedaan di atas, Penulis melihat bahwa “Basmalah” menawarkan banyak hal, terutama terkait dengan theologi, filsafat dan sains, sebagai sumber informasi yang sangat signifikan untuk diimplementasikan dalam kehidupan manusia. Betapa urgennya sebuah ayat “Basmalah”, sehingga Rasulullah SAW., menyatakan “Setiap urusan yang tidak diawali dengan membaca ‘Bismillahirrahmanirrahim’ maka terputuslah keberkahannya”.

C.       Aspek-aspek Teologis dan filsafat dalam Surat Fatihah
Al-Qur’an pada awal diturunkan kepada Nabi Muhammad telah mencerminkan pandangannya yang berbeda dengan tradisi masyarakat Arab masa itu. Ia hadir menawarkan konsep ke-Tuhanan yang kontradiktif dengan konsep ketuhanan yang diyakini oleh masyarakat Arab pada umumnya. Konsep ketuhanan yang mereka yakini adalah konsep politheisme dengan aneka berhala sebagai tuhannya. Oleh karena itu, ketika al-Qur’an mengkritik konsep ketuhanan mereka, al-Qur'an dianggap telah mengusik eksistensi keyakinan yang telah turun temurun.
Pada masa Islam berkuasa di bawah pimpinan  Nabi Muhammad SAW, para sahabat  tidak banyak memperdebatkan konsep Tuhan yang ditawarkan al-Qur’an. Mereka  mengimani sepenuh hati tanpa ada tawar menawar. Tetapi bukan berarti konsep ini tidak dipertanyakan oleh para sahabat. Intelektual mereka terus bergerak mencari siapa ‘Tuhan’ itu?. al-Qur’an memperjelasnya dengan mengungkapkan sifat-sifat Tuhan sebagai karakter pada zat-Nya. Hal ini dimaksudkan oleh al-Qur’an agar manusia tidak terlalu jauh berfikir tentang Zat Tuhan yang bisa diasumsikan sebagai makhluk.  Dalam hal ini, Nabi memberikan komentar ;

عَنْ سَالِمٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَفَكَّرُوا فِي آلاءِ اللَّهِ ، وَلا تَتَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ (رواه الطبرانى)  

Dari Salim, dari Ibn Umar berkata, Bersabda Rasulullah SAW, ”Berfikirlah kalian tentang tanda-tanda Allah, dan janganlah kalian berfikir tentang Allah”[14] (HR. Thabrani)

Dari hadits di atas, merupakan catatan bahwa manusia tidak akan mampu menjawab tentang Zat Tuhan yang sesungguhnya. Kemampuan manusia untuk memahami Tuhan sangat terbatas. Bahkan sifat-sifat Tuhan sebagaimana dilukiskan dalam al-Qur’an dipahami secara asumtif, dan manusia tidak memiliki kemampuan untuk menerjemahkan hakikat sifat Tuhan itu sendiri. Pernyataan Nabi nampak sebagai bentuk larangan, bukan saja karena keterbatasan kemampuan intelektual manusia, tetapi lebih dari itu, interpretasi dari pemahaman manusia yang serba terbatas tersebut memungkinkan penggambaran (Mumatsalah)  bentuk Tuhan dengan makhluk-Nya
Namun dalam perkembangan selanjutnya, para theolog dan filosof memberikan pandangannya masing-masing tentang sifat-sifat Tuhan yang terkait dengan alam fisika maupun alam metafisika, sebagai manifestasi qudrat dan iradah Tuhan. Fisika maupun metafisika merupakan ilmu pengetahuan yang banyak dibicarakan dalam al-Qur'an. Salah satu contoh kongkrit tergambar dalam surat Fatihah ayat 2, “al-Hamdu lillahi Rabbi al-‘Alamin” (Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam).
Fisika adalah setiap benda yang menimbulkan pengalaman inderawi, yakni objek-objek yang dapat merangsang alat-alat kelengkapan indera. Fisika memiliki ciri dasar  materi, yakni ekstensi, penempatan ruang, kelambanan, gerakan, kepadatan, dan sebagainya yang tercakup dalam massa (termasuk di dalamnya elemen-elemen) dan  energi. Dengan demikian fisika ialah perkataan yang dipergunakan sebagai nama jenis substansi yang mendasar dari/dalam alam materi. Pada dasarnya cabang ilmu pngetahuan berkembang dari dua cabang yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural science) dan filsaaft moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial (the social science). Ilmu-ilmu alam terbagi kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam fisik  (the physical science) dan ilmu hayat (the biology science). Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam ‘ada’ di alam semesta yang kemudian bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (memepelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit), dan ilmu bumi (the earth science)  yang mempelajari bumi.[15] Gambaran di atas menjelaskan bahwa ilmu fisika merupakan salah satu cabang dari ilmu pengetahuan. Inilah yang disinggung oleh al-Qur’an di antaranya dalam surat Ali Imran [3] 190-191; surat al-Hijr [15]:21;  dan surat al-Mulk [67]: 3-4;

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2) الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (3)
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

Sedangkan metafisika, menurut Aristoteles mengkualifikasikan metafisika sebagai pembahasan dasar-dasar filsafat yang juga disebutnya filsafat pertama. Sebagai contoh, sebelum kita memperhatikan bahwa sesuatu barang itu bundar dan kuning, dan sebagainya, maka pertama harus diteliti bahwa barang itu “ada”. Pertanyaan mengenai ke-ada-an sesuatu membuka jalan untuk meneliti “hakikat” kodratnya dan sejauh mana barang itu dapat dikenal dan dimengerti. Aristoteles mendefenisikan metafisika sebagai ilmu pengetahuan mengenai yangada sebagai yangada, yang dilawankan misalnya dengan yang-ada sebagai yang digerakkan atau yang-ada sebagai yang dijumlahkan (yang digerakkan dan yang dijumlahkan adalah fisika). Dengan demikian metafisika mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang eksistensi sesuatu. Maka dapat didefenisikan ‘metafisikan adalah sebagai bagian pengetahuan manusia yang  terkait dengan pertanyaan mengenai hakikat yang ada dan yang terdalam’.[16]
Lebih lanjut metafisika dapat dipahami sebgai berikut;
1.        Suatu usaha untuk memperoleh suatu penjelasan yang benar tentang kenyataan.
2.        Studi tentang sifat  dasar kenyataan dalam aspeknya yang paling umum sejauh hal itu dapat dicapai.
3.        Studi tentang kenyataan yang terdalam dari semua hal.
4.        Suatu usaha intelektual yang sungguh-sungguh untuk melukiskan sifat-sifat umum dari kenyataan.
5.        Teori tentang sifat dasar dari struktur dari kenyataan[17].

Mengingat metafisika itu sangat luas. Umumnya metafisika dibagi menjadi empat cabang, yaitu;  ontologi, kosmologi, antropologi metafisik, dan filsafat ketuhanan.
Ontologi menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental. Dalam kerangka tradisional, ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada. Sedangkan dalam pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada”. Kosmologi menyelidiki jenis tata tertib yang paling fundamental dalam kenyataan, yaitu apakah untuk segala sesuatu yang menjadi ada selalu ada sebab yang menentukannya menjadi seperti apa adanya dan bukan sebaliknya, atau apakah hanya ada kebetulan murni,  atau tata tertib teologis yang mengandung penyesuaian sarana-sarana kepada tujuan. Adapun antropologi metafisik adalah filsafat tentang manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat manusia dan pentingnya alam semesta. Sedangkan  filsafat ketuhanan adalah filsafat yang lebih mengarah pada pembahasan tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu yang ada, seperti adanya Tuhan, alam semesta, manusia, dan segala realita lainnya.[18]
Gambaran di atas menunjukkan bahwa Surat Fatihah menawarkan persoalan pengetahuan tentang Tuhan dan segala ciptaan-Nya. Ini nampak terwakili dengan kata, “الحمد لله رب العالمين “, (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam). Kata tersebut memberi pesan yang sangat bermakna bagi manusia yang mencari kebenaran. Pertama, menurut Abu Ja’far, kata “Hamdalah” merupakan ungkapan syukur atas ni’mat Allah yang tak terhingga. Kedua, kata “Jalalah” yang didahului dengan huruf “Jar li al-milk” menunjukkan kepemilikan. Ketiga, kata “Rab”[19] pengatur dan pemelihara yang dilanjutkan dengan kata “al-Alamin” sebagai mudhaf ilaih dalam bentuk jamak, menunjukkan kekuasaan yang dimiliki Tuhan atas alam semesta. Artinya Tuhan sebagai pencipta alam semesta dengan segala keteraturannya patut dipuji oleh manusia. Ayat ini sekaligus menjawab pertanyaan manusia ‘siapa Allah?’. Dialah yang memelihara dan mengatur alam semesta ini.
Dalam kontek filsafat, menurut al-Razi dalam Tafsirnya mengatakan bahwa alam ini mustahil ada (maujud) tanpa Zat yang mengaturnya. Alam ini, menurut al-Razi, adalah gambaran semua  yang ada, kecuali Allah. Oleh karena itu, manusia tidak akan mengetahui Allah sebagai Tuhan kecuali mengenal alam semesta terlebih dahulu.[20]
Menurut Arkoun, bahwa ilmu pengetahuan bagi orang-orang Yunani maupun Arab, tidak bisa dipisahkan dari filsafat. Fisika selalu dikaitkan dengan metafisika. Demikian halnya ilmu kedokteran bagian integral dengan filsafat. Untuk ilmu kedokteran ini, satu persatu masuk ke dalamnya disiplin ilmu yang terkait hingga ia mencakup semua ilmu pengetahuan termasuk astronomi. Sementara kimia, meskipun berkembang tetapi selalu mempertahankan hubungannya dengan filsafat.[21] Gambaran tersebut melahirkan gerakan ilmiah yang cukup besar bagi masyarakat Arab pada zaman Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.

D.      Informasi Sains
1.    Rabbi al’alamin

Sebagaimana Penulis kemukakan di atas bahwa alam semesta ini (cosmos) merupakan gambaran wujud Tuhan. Tuhan tidak akan dikenal oleh makhluk-Nya, tanpa adanya alam semesta ini. Sebagaimana kaum mutashawwifin mengatakan ;

كنتُ كَنزا مخفيا فأحببتُ ان اُعْرَف، فخلقت الخلق، فعرفتُهم بى فعرفونى[22]

Aku adalah harta yang tersembunyi, aku suka untuk dikenal. Maka Kuciptakan makhluk, lalu aku memperkenalkan diri kepada mereka, maka mereka mengenal-Ku.

Alam semesta yang didesain sedemikian rupa, memiliki keteraturan yang jelas dan seimbang  (QS. al-Mulk [67]: 3). Milyaran bintang di alam semesta dengan jarak yang telah ditentukan oleh Tuhan (QS. Al-Qomar [54]: 49), milyaran planet  dan bintang selalu bergerak sesuai dengan garis yang ditentukan Tuhan (QS. Yasin [36]:38-39).
Ayat-ayat Kauniyah sebagaimana disampaikan di atas, lebih banyak diungkap dalam al-Qur'an dari pada ayat-ayat Syar’iyah. Ayat-ayat kauniyah lebih menekankan pada aspek penggunaan daya fikir (intelektual), sedangkan ayat-ayat syar’iyah lebih menekankan pada aspek aplikatif (pengamalan). Oleh karena itu, menurut Penulis, ayat-ayat kauniyah dibangun oleh Allah untuk mendorong manusia befikir atas kebesaran-Nya, agar manusia memiliki keyakinan yang utuh yang dalam pengabdiannya hanya kepada Allah semata.
Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia yang terus bergerak, apa yang ditawarkan al-Qur'an telah menjadi kajian penting para sarjana muslim pada masa keemasan Islam di Bagdad. Kendati ilmu pengetahuan yang awalnya datang dari India dan Yunani. Berkat para cendekiawan muslim, buku-buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang kemudian dikaji secara mendalam, khususnya buku-buku Yunani[23]. Menurut Penulis, kedua negara tersebut sesungguhnya merupakan pintu pertama membuka ilmu pengetahuan baru dalam ilmu alam (natural sciences) yang dikembangkan belakangan oleh kaum intelektual muslim.
Menurut Mulyadi, bahwa para sarjana muslim seperti al-Kindi, al-Razi, dan generasi sesudahnya seperti al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Haytam dan al-Biruni menghubungkan persoalan sains dengan filsafat, yang erat kaitannya dengan ilmu agama.[24]
Perhatian mereka terhadap sains sangat serius. Sains dalam pandangan mereka  merupakan ilmu pengetahuan (natural sciences) yang integral dengan alam metafisika yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Alam semesta (cosmos) yang diungkapkan dalam al-Qur'an telah menghasilkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Di antaranya ilmu-ilmu yang dikategorikan ilmu fisika yang meliputi ; 1) astrofisik yang membahas masalah alam semesta fisik. 2) meteorologi yang membahas tentang objek-objek ilmu  yang ada antara langit dan bumi, 3) fisika yang membahas tentang materi alam fisik, 4) minerologi yang membahas tentang substansi mineral baik yang berupa cairan, batu-batuan, dan logam-logam. Kemudian 5) botani yang membahas tentang tumbuhan, dan 6) zoologi yaitu ilmu yang  membahas tentang hewan dalam berbagai aspeknya, dan selanjutnya difokuskan kepada manusia, yang melahirkan ilmu pengetahuan utama yaitu anatomi dan psikologi.[25]
Berbicara tentang manusia, al-Qur'an menyebut beberapa istilah. Dari aspek historis, manusia disebut sebagai “Bani Adam”(QS. Al-Araf [7] ;172) ; dari aspek intelektual, manusia disebut sebagai “al-Insan”(QS. Al-Ahzab [33]; 72); dari aspek sosial, manusia disebut oleh al-Qur'an dengan “ al-Nas”(QS. Al-Baqoroh [2] ;21); dari aspek biologis, manusia disebut “al-Basyar”; (QS. Al-Kahfi [18]: 110),  dan dari aspek statusnya disebut “al-‘Abdu”[26].(QS. Maryam [19]:93.
Dalam kontek sains, sebagaimana diungkapkan oleh al-Qur'an, proses penciptaan manusia salah satu aspek pengetahuan yang sangat menarik. Al-Qur'an menyampaikan informasi terkait dengan unsur-unsur kejadian manusia sebagai berikut ;
Pertama disebut di dalam surat al-Mu’minun dengan kata “Sulalah min thin” Kata “Sulalalah” (سلالة). Pada ayat di atas  yang berarti ‘mencabut atau mengeluarkan sesuatu dengan pelan-pelan’. Saripati atau sesuatu yang keluar dari sesuatu disebut sulalah. Karena itu air sperma disebut pula sulalah. Dan ini merupakan tahap paling awal sekali.[27] Kedua dalam surat al-Mu’minun, kata “sulalah” dihubungkan dengan kata “Thin” (طين). Kata  "thien" (tanah), menurut Bahauddin Mudhari, adalah "atom zat air" atau Hidrogenium[28].
Ketiga diungkap di dalam surat Ar-Rahman ayat 14, “Shalshal kalfakhkhar” (   صلصال كالفخار )  adalah  tanah kering seperti tembikar (Tanah yang dibakar). Yang dimaksudkan dengan kata "Shal-shal" di ayat ini ialah: Tanah kering atau setengah kering yakni "Zat pembakar" atau Oksigen. Di ayat itu disebutkan juga kata "Fakhkhar," yang maksudnya ialah "Zat Arang" atau Carbonium.
Keempat diungkap di dalam surat al-Hijr ayat 28, “Hama’in Masnun” (حمإ مسنون), tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.  Di ayat ini,  desebutkan pula  kata "shal-shal," telah saya terangkan, sedangkan kata "Hamaa-in" di ayat tersebut ialah "Zat Lemas" atau Nitrogenium.
Kelima  diungkap dalam surat Ash Shaffaat ayat 11, “Thin Lazib” (طين لازب), artinya  tanah liat. Yang dimaksud dengan kata "lazib" (tanah liat) di ayat ini ialah "Zat besi" atau ferrum.
Keenam  diungkap di dalam surat Ali Imran ayat 59, “Turab” artinya tanah, ." Yang dimaksud dengan kata "turab" (tanah) di ayat ini ialah: "Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah" yang dinamai "zat-zat anorganis." Dan ketujuh adalah peniupan ruh kedalam tubuh manusia sebagai makhluk manusia yang sempurna. (QS. QS. Al Hijr  [15] 29)[29]
Selanjutnya Mudhary menerangkan ke 7 ayat di atas sebagai berikut ;
“Ketujuh ayat Al-Qur'an, telah menunjukkan tentang proses kejadiannya manusia sehingga berbentuk sempurna, lalu ditiupkan ruh kepadanya sehingga manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat tentang kata "Turab" (tanah) ialah zat-zat asli yang terdapat didalam tanah yang dinamai Zat Anorganis.  Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara "Fakhkhar" yakni Carbonium (zat arang) dengan "Shalshal" yakni Oksigenium (zat pembakar) dan "Hamaa-In" yaitu Nitrogenium (zat lemas) dan “Thien” yakni Hidrogenium (Zat air).  Jelasnya adalah persenyawaan antara: Fachchar (Carbonium = zat arang) dalam surat Ar Rahman ayat 14. Shalshal (Oksigenium = zat pembakar) juga dalam surat Ar Rahman ayat 14. Hamaa-in (Nitrogenium = zat lemas) dalam surat Al Hijr ayat 28. Thien (Hidrogenium = Zat Air) dalam surat As Sajadah, ayat 7.  Kemudian bersenyawa dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan Mangaan, yang disebut "Laazib" (zat-zat anorganis) dalam surat Al- Shafaat ayat 11. Dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yang dinamai protein. Inilah yang disebut "Turab" (zat-zat anorganis) dalam surat Ali Imran ayat 59. Salah satu diantara zat-zat anorganis yang terpandang penting ialah "Zat Kalium," yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, teristimewa di dalam otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dalam proses hayati, yakni dalam pembentukan badan halus. Dengan berlangsungnya "Proteinisasi," menjelmakan "proses penggantian" yang disebut "Substitusi." Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga "sebab ujud" atau Causa Formatis. Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah. Maka dengan mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yang terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba rohaniah pula, yang sangat erat hubungannya dengan ilmu Metafisika”.[30]
Sedangkan proses penciptaan manusia diungkapkan oleh Allah di dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun 12-14

ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ  

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).  Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.  (QS. Al-Mu’minun [23]:12-14)

Pada ayat di atas, Allah menjelaskan tentang proses penciptaan manusia dimulai dengan kata “Sulalah” dan “Thin”. Tahapan selanjutnya adalah ‘nuthfah’ (air mani  atau sperma). Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari bahasa Yunani kuno: σπέρμα yang berarti benih, dan ζῷον yang berarti makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi laki-laki. Sel sperma akan membuahi ovum untuk membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio[31].
Sel sperma manusia adalah sel sistem reproduksi utama dari laki-laki. Sel sperma memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sel sperma manusia terdiri atas kepala yang berukuran 5 µm x 3 µm dan ekor sepanjang 50 µm. Sel sperma pertama kali diteliti oleh seorang murid dari Antonie van Leeuwenhoek tahun 1677. Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi.[32]

a)      Perkembangan Sel
Di dalam tubuh manusia, telah dikenali sekitar 210 jenis sel. Sebagaimana organisme multiselular lainnya, kehidupan manusia juga dimulai dari sebuah sel embrio diploid hasil dari fusi haploid oosit dan spermatosit yang kemudian mengalami serangkaian mitosis. Pada tahap awal, sel-sel embrio bersifat totipoten, setiap sel memiliki kapasitas untuk terdiferensiasi menjadi salah satu dari seluruh jenis sel tubuh. Selang berjalannya tahap perkembangan, kapasitas diferensiasi menjadi menurun menjadi pluripoten, hingga menjadi sel progenitor yang hanya memiliki kapasitas untuk terdiferensiasi menjadi satu jenis sel saja, dengan kapasitas unipoten. Pada level molekular, perkembangan sel dikendalikan melalui suatu proses pembelahan sel, diferensiasi sel, morfogenesis dan apoptosis. Tiap proses, pada awalnya, diaktivasi secara genetik, sebelum sel tersebut dapat menerima sinyal mitogenik dari lingkungan di luar sel.[33]

b)     Proses Pembelahan Sel
Siklus sel adalah proses duplikasi secara akurat untuk menghasilkan jumlah DNA kromosom yang cukup banyak dan mendukung segregasi untuk menghasilkan dua sel anakan yang identik secara genetik. Proses ini berlangsung terus-menerus dan berulang (siklik)
Pertumbuhan dan perkembangan sel tidak lepas dari siklus kehidupan yang dialami sel untuk tetap bertahan hidup. Siklus ini mengatur pertumbuhan sel dengan meregulasi waktu pembelahan dan mengatur perkembangan sel dengan mengatur jumlah ekspresi atau translasi gen pada masing-masing sel yang menentukan diferensiasinya[34].
c)      Fase Pada Siklus Sel
Fasa S (sintesis): Tahap terjadinya replikasi DNA. Fasa M (mitosis): Tahap terjadinya pembelahan sel (baik pembelahan biner atau pembentukan tunas). Fasa G (gap): Tahap pertumbuhan bagi sel.  Fasa G0, sel yang baru saja mengalami pembelahan berada dalam keadaan diam atau sel tidak melakukan pertumbuhan maupun perkembangan. Kondisi ini sangat bergantung pada sinyal atau rangsangan baik dari luar atau dalam sel. Umum terjadi dan beberapa tidak melanjutkan pertumbuhan (dorman) dan mati.  Fasa G1, sel eukariot mendapatkan sinyal untuk tumbuh, antara sitokinesis dan sintesis.  Fasa G2, pertumbuhan sel eukariot antara sintesis dan mitosis. Fasa tersebut berlangsung dengan urutan S > G2 > M > G0 > G1 > kembali ke S. Dalam konteks Mitosis, fase G dan S disebut sebagai Interfase.
Ilmu pengetahuan, sebagaimana dinyatakan di atas sejalan dengan informasi al-Qur'an  Surat Al-Zumar ]39]: 6, bahwa manusia berada dalam tiga fase;
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ ( الزمر : 6)

Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (QS. Al-Zumar [39]: 6)

Pada surat ini bahwa manusia dalam perut ibunya, berada dalam tiga kegelapan;
1.    Kegelapan dalam perut  ( ظلمة البطن)
2.    Kegelapan di dalam rahim (  ظلمة الرحم)
3.    Kegelapan di dalam slaput yang menutupi anak di dalam rahim (plasenta) ( ظلمة المشيمة)[35]
Tiga kegelapan inilah yang dimaksudkan tiga fase tersebut. Yaitu fase perkembangan sel, fase pembelahan sel dan fase pada siklus sel.
Menurut Penulis, bahwa apa yang diinformasikan oleh al-Qur’an surat Fatihah, tentang alam semesta merupakan gambaran kekuasaan-Nya yang dirinci di dalam berbagai surat dan ayat. Ayat-ayat tersebut yang secara integral memberi pesan kepada manusia untuk menerjemahkan informasi tersebut dan menggalinya sehingga manusia dapat memperkuat imannya dan memancarkan hidayah ilmiah tentang kebenaran al-Qur’an.

2.    Tuhan dan alam semesta
Diantara segi kemukjizatan Al-Qur’an adalah adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebih dahulu dalam Al-Qur’an sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern. Penciptaan alam berdasarkan konsep Islam dan Sains modern ternyata memiliki hubungan, dan dari beberapa hasil observasi kosmolog ternyata banyak yang sesuai dengan beberapa firman Allah SWT, antara lain sebagai berikut:

óOs9urr& ttƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tFtR%Ÿ2 $Z)ø?u $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur  z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( Ÿxsùr& tbqãZÏB÷sムÇÌÉÈ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya [21]:30

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa alam semesta sebelum dipisahkan Allah merupakan sesuatu yang padu. Sesuatu yang padu itulah yang oleh kosmolog disebut dengan titik singularitas. Sedangkan yang dimaksud pemisahan ialah ledakan singularitas dengan sangat dahsyat, yang kemudian menjadi alam semesta yang terhampar. Selanjutnya, dikatakan bahwa segala kehidupan itu berasal dari air. (QS. Al-Anbiya [21]:30). Tiga ahli kosmologi dan astronomi, yaitu Georges Lamaitre, George Gamow, dan Stephen Hawking menjelaskan bahwa atom-atom yang tebentuk sejak peristiwa Big Bang adalah atom Hidrogen (H) dan Helium (He). Adapun air terdiri dari atom hidrogen dan oksigen (H2O), artinya, sejak tahun 1400 tahun silam Al-Qur’an telah menyebutkannya jauh sebelum tiga pakar tersebut mengemukakan teorinya.[36]

Dalam Al-Quran surat Fush-shilat [41] :11)

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".

Kata asap dalam tersebut menurut para ahli tafsir adalah merupakan kumpulan dari gas-gas dan pertikel-partikel halus baik dalam bentuk padat maupun cair pada temperatur yang tinggi maupun rendah dalam suatu campuran yang lebih atau kurang stabil[37].
Salah satu teori mengenai terciptanya alam semesta (teori Big bang) disebutkan bahwa alam semesta tercipta dari suatu ledakan kosmis sekitar 10-20 milyar tahun yang lalu mengakibatkan adanya ekspansi (pengembangan) alam semesta. Sebelum terjadinya ledakan kosmis tersebut, seluruh ruang materi dan energi terkumpul dalam bentuk titik, sebagaimana dijelaskan di atas. Pengebangan tersebut nampak jelas diungkapkan dalam al-Qur'an surat Adz-Dzaariyaat (51:47)

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ (47)

“Dan langit, denag kekuasaan Kami, Kami bangun dan Kami akan memuaikannya selebar-lebarnya”. (QS. Adz-Dzaariyaat [51]:47)

Pada ayat di atas terdapat kata “Wa Inna lamusi’un” artinya meluaskan (mengembangkan) sebagaimana diungkap dalam Tafsir.[38] Ayat ini lebih tepat dihubungkan dengan pemuaian alam semesta secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat yang diumpamakan mengembangnya permukaan balon yang sedang ditiup yang mengisyaratkan bahwa galaksi akan hancur kembali[39]. Isyarat ini sudah dijelaskan dalam surat Al-Anbiya’ [21]104.

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya”. (QS. Al-Anbiya’ [21]104)

Didalam surat As-Sajada (32:4)

Artinya: “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy,  tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at.  Maka Apakah kamu tidak memperhatikan”.
Uraian penciptaan langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, terdapat dalam surat Fushshilat ayat 9-12

 “Katakanlah: "Sesungguhnya Patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam). Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa”. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."(QS. Fush-Shilat; [41] 9-12)
Dengan perincian penafsirannya sebagai  berikut :
1.        Tahap pertama penciptaan bumi 2 rangakain waktu
2.        Tahap kedua penyempurnaan bumi 2 rangkaian waktu
3.        Tahap ketiga penciptaan angkasa raya dan planet-planetnya 2 rangkaian waktu[40]

Jadi terbentuknya alam raya ini terjadi dalam 6 rangkaian waktu atau 6 masa.
Selain surat-surat tersebut diatas masih banyak lagi yang menjelaskan tentang terbentuknya alam raya ini, namun dari yang telah kami sampaikan dalam ringkasan ini terlihat bahwa secara umum proses terciptanya alam raya ini berlangsung dalam 6 masa, dimana tahapan-tahapan dalam proses tersebut saling berkaitan. Disebutkan juga bahwa terciptanya alam raya ini terjadi melalui proses pemisahan massa yang tadinya satu[41].
Terlepas dari berbagai teori yang dikemukakan oleh para saintis  dan para mufassirin tentang alam ini, bahwa alam semesta yang didesain sedemikian indah dan bergerak secara teratur, bukanlah jadi dengan sendirinya. Di balik semua ini, ada Zat Yang Maha Pencipta yang memproses pembentukan alam semesta ini. Al-Qur'an banyak berbicara tentang hal ini, dan semuanya terkandung di dalam surat al-Fatihan ayat 2, al-Hamdulillah rabbi al-‘alamin.  

E.       Penutup

Al-Qur'an merupakan kitab suci yang sarat dengan informasi yang selalu aktual untuk di bahas. Surat Fatihah merupakan surat pendahuluan yang membongkar informasi semua surat yang terkandung dalam al-Qur'an. Untuk membaca satu ayat dari surat ini, sudah pasti akan terkait dengan ayat-ayat dalam surat-surat sesudahnya.
Informasi yang terkandung dalam surat Fatihah memberi pesan penting tentang alam semesta yang mengarahkan manusia untuk mengenal Allah sebagai sang pencipta. Artinya, bahwa kehadiran alam semesta ini, bukan tanpa sebab. Ada sebab pertama yang mendesain alam dengan penuh keteraturan. Itulah yang diperkenalkan oleh Allah dalam surat Fatihah sebagai  “Rabb al-‘Alamin”.
DAFTAR PUSTAKA

al-‘Atsimain, Muhammad ibn Shalih, Kutub wa rasa’il al-Fatawa, (Maktabah Syamilah, al-Lajnah al-‘Ilmiyah li Mu’assasat al-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Atsimain, t.t), Juz 184
al-Alusi, Syihabuddin Mahmud ibn Abdullah al-Husaini. Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Azhim wa Sab’u al –Matsani, Maktabah Syamilah, Mawqi al-Tafasir, Jil. 1  
al-Buchori, Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mugirah, Shahih Buchori, (Maktabah Syamilah, Mauqi Wizarah al-Awqaf al-Misriyah), Jil. 3
 al-Damsyiqi,  Abu al-Fida Ismail ibn Katsir al-Quraisy, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, (Mesir, Dar Thayibah Li al-Nasyr wa al-Tawzi, 1999), Cet. 2, Juz, 7
al-Damsyiqi, Ismail ibn Umar ibn Katsir al-Quraisyi, Tafsir Ibnu Katsir, (Bairut; Dar al-Thayibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1999),  Cet. ke II, Jil. 8
al-Jarahi,  Al-‘Ajiluni, Ismail ibn Muhammad, Kasyfu al-Khafa wamazil al-Ilbas ‘amma Isytahara min al-Ahadits ‘ala Alsinat al-Nas, (Bairut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.t), Jil. 2
al-Khazin, Abu Hasan ali ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Umar al-Syaihi, Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Qur’an, (Maktabah Syamilah), Jil. VI
al-Maraghi, Ahmad Mushtafa. Tafsir al-Maraghi,( Bairut; Dar Ihya al-Turast, t.t), Jil. 1
al-Misri, Muhammad ibn Mukram ibn Manzhur al-Afriqi, Lisan al-Arab, Bairut: Dar al-Shadir, Cet. 1
Al-Naisaburi, Tafsir Garaib al-Qur’an wa Raga’ib al-Qur'an (Mesir; Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mustafa al-Bani al-Halabi wa Awladi, 1962), Jil. I
Al-Razi,  Abu Abdullah Muhammad ibn Umar ibn al-Husan ibn al-Husain al-Taimy,  Mafatih al-Gaib, (Maktabah Syamilah, Mawqi’ al-Tafasir, t.t).  Jil. 1
al-Sajastani, Sulaiman ibn Asy’ast ibn Syaddad ibn Amr al-Azdi Abu Daud, Sunan Abi Daud, (Maktabah Syamilah, Mauqi’  Wizarat  al-Awqaf al-Mishriyah,t.t), Jil. 3
al-Thabari, Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Katsir ibn Ghalib al-Amili Abu Ja’far, Jami al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Saudi Arbia,  Muassasah al-Risalah, 2000), Cet. 1
Al-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, (Maktabah Syamilah, Mulaffat Wurud ‘ala Multaqa Ahli al-Hadits, t.th), Jil. 3
al-Zaid, Abdullah ibn Ahmad ibn Ali, Muchtashar Tafsir al-Bughawi, (Riyad, Dar al-Salam Li al-Nasy wa al-Tawzi’ 1416H), Juz 6   
Arkoun, Muhammad, (Terj) Rethinking Islam, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1996). Cet. Ke-1
Ensiklopedia Bebas http://id.wikipedia.org/wiki/Spermatozoid , Kamis, 18 Januari 2011)
Hasyisy, Syaikh Ali, Silsilah al-Ahadits al-Wahiyah, (Maktabah Syamilah, t.p., t.t), Jil. 1
Hatta, Ahmad (terj),  The Great Story of Muhammad (Jakarta: Magfirah Pustaka,) 2011
Inwa,  Rizky, Proses terbentuknya alam semesta dalam al-Qur’an dan Sains, diakses dari, http://rizkyynwa.blogspot.com/2012/10/
Kartanegara, Mulyadhi, Pengantar Studi Islam, (Jakarta, Ushul Press, 2011),
Sabiq, Sayid, Fiqh Sunnah, (Bairut; Dar al-Fikri, 1981), Jil. II
Safa, Sahlan Proses terbentuknya alam semesta Dalam kajian sains dan al qur’an, diakses dari ; http://sahlan-safa.blogspot.com/2012/12/proses-terbentuknya-alam-semesta-dalam.html
  Shihab ,Quraish (ed), (et.al), Ensiklopedia al-qur’an; Kajian Kosakata, (Jakarta; Lentera Hari, 2007), Jil. 3
T. Djamaluddin, Integrasi Sains-Quran dalam Meninjau  Penciptaan dan Akhir Semesta, (Materi Perkuliahan Pascasarjana PTIQ Jakarta, pada hari Sabtu, 24 Nopember 2012)
Widuri, Antonius dan Bahaudin Mudhary, Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, (kompilasi dari situs media.isnet.org, http://www.geocities.com/pakdenono/ )
Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam-Filosof dan Filsafatnya,  (Jakarta; Grafindo Persada,  2010)



[1] Rasulullah memproklamirkan nubuwahnya kepada masyarakat Arab setelah turunnya surat al-Mudatstsir. Surat ini, menurut sebagian ulama turun setelah surat al-Alaq sebagai bentuk dakwah terbuka. Lihat;  Ismail ibn Umar ibn Katsir al-Quraisyi al-Damsyiqi, Tafsir Ibnu Katsir, (Bairut; Dar al-Thayibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1999),  Cet. ke II, Jil. 8, h. 1
[2] Lihat ; al-Khazin, Abu Hasan ali ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Umar al-Syaihi, Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Qur’an, (Maktabah Syamilah), Jil. VI, h. 232, (QS. Al-Muthafifin; 1-3, yang berbicara tentang timbangan.)
[3] Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Bairut; Dar al-Fikri, 1981), Jil. II, h. 6. Monogami adalah pernikahan dengan banyak suami untuk satu orang wanita.  Jika wanita tersebut melahirkan, maka semua lelaki yang menggaulinya dihadirkan untuk menyaksikan anak tersebut. Dan wanita ini akan menunjuk salah satu laki-laki yang mirip dengan anaknya sebagai ayah untuk dinisbatkan namanya dengan nama ayahnya. Dan tak ada seorang pun yang menolak atas keputusan wanita itu.
[4] Ahmad Hatta, (terj),  The Great Story of Muhammad (Jakarta: Magfirah Pustaka,) 2011, h. 117-135
[5] Lihat; QS. Al-Kahfi [18]:109
[6] Ahmad Mushtafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi,( Bairut; Dar Ihya al-Turast, t.t), Jil. 1, hal. 23
[7] Syihabuddin Mahmud ibn Abdullah al-Husaini al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Azhim wa Sab’u al –Matsani, Maktabah Syamilah, Mawqi al-Tafasir, Jil. 1, hal. 1
[8] Lihat: Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mugirah al-Buchori, Shahih Buchori, (Maktabah Syamilah, Mauqi Wizarah al-Awqaf al-Misriyah), Jil. 3, hal. 275;  No. Hadits 756, Bab Wujub al-Qira’at li al-Imam wa al-Ma’mum.
[9] al-Maragi, op.cit. hal. 23
[10]Al-Maragi,  Ibid, hal. 23-24
[11] Sulaiman ibn Asy’ast ibn Syaddad ibn Amr al-Azdi Abu Daud al-Sajastani, Sunan Abi Daud, (Maktabah Syamilah, Mauqi’  Wizarat  al-Awqaf al-Mishriyah,t.t), Jil. 3, hal. 56, No. Hadits 784, Bab ‘Man lam yara al-jahra bi bismillahirrahmanirrahim’
[12] Maragi, op.cit. h.26-27
[13] Muhammad ibn Shalih al-‘Atsimain, Kutub wa rasa’il al-Fatawa, (Maktabah Syamilah, al-Lajnah al-‘Ilmiyah li Mu’assasat al-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-‘Atsimain, t.t), Juz 184, hal. 1-2, No. Fatwa 455, tentang ‘al-Isti’adzah wa al-Basmalah.
[14] Al-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, (Maktabah Syamilah, Mulaffat Wurud ‘ala Multaqa Ahli al-Hadits, t.th), Jil. 3, hal. 313, No. Hadits 683, bab 3
[16] Ibid., Kajian Tentang Fisika
[17] Ibid., Kajian Tentang Fisika
[18] Lihat, Sirajuddin Zar, Filsafat Islam-Filosof dan Filsafatnya,  Jakarta; Grafindo Persada,  2010, h. 6-9
[19] Muhammad ibn Mukram ibn Manzhur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-Arab, Bairut: Dar al-Shadir, Cet. 1, Jil. 1, h. 399
[20] Abu Abdullah Muhammad ibn Umar ibn al-Husan ibn al-Husain al-Taimy Al-Razi,  Mafatih al-Gaib, (Maktabah Syamilah, Mawqi’ al-Tafasir, t.t).  Jil. 1, h. 2
[21] Muhammad Arkoun, (Terj) Rethinking Islam, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 1996). Cet. Ke-1,  hal. 133
[22] Al-‘Ajiluni, Ismail ibn Muhammad al-Jarahi,  Kasyfu al-Khafa wamazil al-Ilbas ‘amma Isytahara min al-Ahadits ‘ala Alsinat al-Nas, (Bairut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.t), Jil. 2, h.  132. Hadits ini cukup popular dikalangan ahli tasawuf. Namun para ulama berpendapat bahwa hadits tersebut dha’if, karena tidak memiliki sanad yang sahih maupun dhaif, sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Taimiyah, Zarkasyi, ibn Hajar, al-Suyuti dan lain-lain. (Lihat,  Syaikh Ali Hasyisy, Silsilah al-Ahadits al-Wahiyah, (Maktabah Syamilah, t.p., t.t), Jil. 1, h. 369, bab ‘al-Tahqiq al-‘Ilmi lihadits al-Junun.
[23] Mulyadhi Kartanegara, Pengantar Studi Islam, (Jakarta, Ushul Press, 2011), hal.281
[24] Ibid, hal. 282-283
[25] Ibid, hal. 290-291
[26] Lihat, QS. Al-Baqoroh [2]:21, Al-Naisaburi, Tafsir Garaib al-Qur’an wa Raga’ib al-Qur'an (Mesir; Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mustafa al-Bani al-Halabi wa Awladi, 1962), Jil. I, h. 190, menjelaskan bahwa kata “’Ubudu”, yang berakar kata dari masdar “Abdu” yang dinisbatkan pada ibadaha dimaksudkan agar manusia mengenal Tuhannya, sehingga dapat melaksanakan segala perintahnya. 
[27] Quraish Shihab (ed). (et.al), Ensiklopedia al-qur’an; Kajian Kosakata, (Jakarta; Lentera Hari, 2007), Jil. 3, hal. 927
[28] Antonius Widuri dan Bahaudin Mudhary, Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, (kompilasi dari situs media.isnet.org, http://www.geocities.com/pakdenono/ ), diakses pada hari Senin, 4 Februari 2013.
[29] Ibid, Dialog.
[30] Ibid., dialog
[31] Diakses dari Wikipidea ; Ensiklopedia Bebas http://id.wikipedia.org/wiki/Spermatozoid , Kamis, 18 Januari 2011)
[32] Ibid.
[33] Ibid.
[34] Ibid                                                                                                                    
[35] Abdullah ibn Ahmad ibn Ali al-Zaid, Muchtashar Tafsir al-Bughawi, (Riyad, Dar al-Salam Li al-Nasy wa al-Tawzi’ 1416H), Juz 6, hal. 442
[36] Rizky Inwa,  Proses terbentuknya alam semesta dalam al-Qur’an dan Sains, diakses dari, http://rizkyynwa.blogspot.com/2012/10/, pada hari Sabtu, 9Februari 2013
[37] Ibid.
[38] Abu al-Fida Ismail ibn Katsir al-Quraisy al-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, (Mesir, Dar Thayibah Li al-Nasyr wa al-Tawzi, 1999), Cet. 2, Juz, 7, hal. 424
[39] T. Djamaluddin, Integrasi Sains-Quran dalam Meninjau  Penciptaan dan Akhir Semesta, (Materi Perkuliahan Pascasarjana PTIQ Jakarta, pada hari Sabtu, 24 Nopember 2012)

[40] Lihat, Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Katsir ibn Ghalib al-Amili Abu Ja’far al-Thabari, Jami al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Saudi Arbia,  Muassasah al-Risalah, 2000), Cet. 1, Juz 21, hal 443
[41] Sahlan Safa, Proses terbentuknya alam semesta Dalam kajian sains dan al qur’an, diakses dari ; http://sahlan-safa.blogspot.com/2012/12/proses-terbentuknya-alam-semesta-dalam.html, pada hari Sabtu, 9 Februari 2013